Film yang diangkat dari novel karya Yann Martel ini luar biasa amazing menurut saya. Dari segala aspek, ide cerita, naskah, gambar, penyutradaraan, dan lain-lain, film ini benar-benar menakjubkan.
Film garapan sutradara kawakan Ang Lee ini bercerita tentang Pi Patel.
Seorang anak berkebangsaan India yang orang tuanya adalah pemilik sebuah kebun binatang. Keluarga Pi harus pindah ke Kanada, karena ditengah memburuknya politik di india, hal tersebut membuat kondisi di India tidak memungkinkan untuk terus running sebuah kebun binatang.
Maka selanjutnya, seluruh satwa penghuni kebun binatang ikut diboyong menggunakan kapal kargo. Namun naas tak terelakan pun terjadi. Kapal yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan akibat badai dahsyat menyebabkan kapal kargo yang mereka tumpangi karam di tengah lautan.
Hanya Pi seorang yang selamat. Tapi dia terjebak dalam satu sekoci bersama seekor harimau Bengali. Hampir keseluruhan film ini, menggambarkan bagaimana Pi bertahan hidup dari ganasnya lautan dan berjaga-jaga dari serangan si harimau yang diberi nama Richard Parker.
Saya tidak ingin meresensi film tersebut, silakan nonton sendiri film luar biasa yang sarat pesan bermakna ini. Saya juga bukan ingin memfilosofikannya. Sangat sayang jika film yang indah secara visual dan narasi ini dirumuskan oleh pemikiran satu orang. Tapi ada 2 hikmah luar biasa yang ingin saya sampaikan dari film ini.
Pertama,
Pi berusaha selalu fokus pada solusi, bukan pada masalah yang dihadapinya. Bukan meratapi kenapa dia bisa terkatung-katung di laut satu perahu dengan seekor harimau, tapi dia malah membuat strategi dan tindakan mengatasi intaian serangan si Richard Parker. Bahkan dia sampai berhasil melatih si harimau untuk menuruti perintahnya.
Di buku hariannya dia menulis, ”Saya berterimakasih kepada Richard Parker, karena dia lah saya jadi selalu awas dan waspada untuk bertahan hidup. Tanpa dia mungkin saya sudah mati.”
“You must take life the way it comes at you and make the best of it.”
Yang kedua,
Never lose hope. Kehilangan orang tua dan kakak, terkatung-katung di tengah lautan luas, satu sekoci bersama harimau yang tiap saat bisa memangsanya, kelaparan, kehausan, terbakar panas matahari, kehujanan, kedinginan, terhempas badai; itu pasti suatu tantangan hidup yang luar biasa. Terus terang saya pribadi belum pernah mengalami tantangan hidup seberat itu. Satu yang membuat dia bisa selamat: Tidak pernah kehilangan harapan.
Saat kita merasa sendiri, saat merasa keadaan sangat menekan dan menghimpit, saat merasa Tuhan itu tidak membantu, atau bahkan merasa Tuhan itu tidak ada; sebenarnya Tuhan itu selalu menjaga kita, selalu memberi jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan kita.
Hanya masalahnya, kita sendiri tidak aware, kita kurang peka terhadap “suara-suara” dan tanda-tanda dari Tuhan.
Percaya atau tidak, namun dua hal itu lah yang kira-kira saya lakukan pada saat saya dulu terbelit masalah hutang. Fokus pada solusi dan tidak pernah kehilangan harapan. Hasilnya ?
Sy dapat merubah aneka ragam ancaman hutang (jika dalam kisah Life of Pi, di analogikan sebagai si Harimau bengali) menjadi sebuah kesempatan yg akhirnya merubah total hidup saya. Karena andai saja saya dahulu tidak memiliki hutang sedemikian besar, mungkin saya tidak akan pernah menjadi seperti ini.
Seperti yg dikatakan oleh Pi ;
” Saya berterimakasih kepada Richard Parker, karena dia lah, saya jadi selalu awas dan waspada untuk bertahan hidup. Tanpa dia mungkin saya sudah mati.”
Pesan saya utk pembaca :
Fokuslah pada solusi dan jangan pernah kehilangan harapan.

Komentar
Posting Komentar