Puisi



1: Seperti anai-anai 
Terbang landai, meremah, tercecer di bawah langit 
Ada gadis kolong mengejar bis.. 
Bisa sampai? 
Barangkali andai, atau entah, tak ada yang pasti 
Hanya itu yang ada 
Tapi saat itu ia mengerti 
Usaha menjelma pelajaran pertama 

2: Menjadi gila tak selamanya nista 
Terkadang perlu juga..
Tuk jadi matang di belantara dan jika aspal buntu, tentu saja 

3: Ada satir di balik imaji terliar 
Tempat terjauh yang terjamah slaksa seucap kata-kata 
Mungkin sejarak ujung jalan dengan stasiun kereta, terminal atau bengkel tambal ban
Siapa yang tahu? 

4: Waktu menjentikan jari 
Malam digantikan dinihari 
Sebentar lagi pagi 
Matahari pun masih sama; seperti biasa; Kutangkap sinarnya dari sepasang matamu

5: Udara fajar melesup rongga, melesat secepat cahaya hingga ke diafragma 
Menagih mimpi sederhana yang masih juga kau 
Merunut ingat pada warna yang kau lagi 
Mengurus diri sendiri adalah satu yang diingini 

6: Ada yang dikenal karena kerahimannya 
Sebaik-baik tempat berserah usaha 
Sang Maha 
Sementara kau rimba 
Tempat segala upaya dicoba 
Pagar yang dicari kuncinya 
Meski dengan cara yang tak terpahami banyak mata

Aku hanya paham satu hal: 
Setiap insan dikarunia pikiran untuk berdamai dengan keadaan 
Meski ada kalanya.. 
Setiap kaki perlu belajar 
Melompati situasi.. 
Kita belajar kreatif lewat kegilaan..

Komentar