THR

Sampai hari ini saya masih mendengar kawan yang mengeluh uangnya belum cukup untuk membayar THR karyawannya menjelang lebaran, sudah menjadi kebiasaan seolah-olah gak ada THR gak lebaran.. gak horeee boss! Dan memang karyawan berhak mendapatkannya.
Di level UKM (Usaha Kecil Mrengil) yang manajemen keuangannya masih sederhana, bukan berarti soal THR ini disepelekan. Asal mau disiplin tiap bulan, maka kejadian pusing tiap menjelang lebaran gak akan terjadi.
Kalau mengandalkan THR dari omzet penjualan selama bulan Ramadhan belum tentu bisa nutup, banyak bisnis kuliner yang omzetnya tinggal separo karena hanya jualan sore dan malam saja, walaupun ada juga yang panen seperti bisnis baju muslim menjelang hari raya ini.
“Terus gimana mas, balik soal THR tadi?”
Boleh ditiru yang saya lakukan, asal mau disiplin, sejak 2005 saya gak pernah pusing soal THR, karena semua sudah teralokasi. Dan juga memang bisnis saya masih level puluhan karyawan, gak sampai ratusan atau ribuan orang, tapi tak ada salahnya dicoba
Misal gini, dalam sebulan beban gaji rata-rata 15 juta. Maka itu totalan yang harus saya siapkan setahun sekali untuk biaya THR. Saya bagi 12 bulan, jatuhnya adalah 1.250.000
Maka setiap bulan usai gaji dibayarkan, pajak dibayarkan, biaya sewa tempat ditabung, maka saya ambil 1.250.000 khusus untuk THR, saya masukkan ke rekening khusus bank Syariah dengan akad wadiah (tanpa bagi hasil). Baru sisanya adalah nett profit atau keuntungan bersih dari usaha saya itu.
Asal disiplin keuangan, dana di rekening itu gak boleh diotak-atik, bahkan ATM-nya gak tau kemana, terkumpul kok uang 15 juta itu dalam setahun, tinggal dibagi sesuai gaji masing-masing. Kalau aturan pemerintah sebesar gaji pokok, atau rata-rata gaji yang diterima perbulan.
Kalau ada karyawan yang baru bekerja 6 bulan?
Tinggal dibagi misal gaji rata-rata (1,8 juta/12 bulan) x 6 bulan = 900.000, itu THR yang diberikan.
“Kalau ternyata usaha saya bener-bener belum mampu mas? Apakah saya harus berhutang untuk bayar THR”
Naaah kalau ini dibicarakan baik-baik dengan karyawan, misal hanya mampu membayar setengah dari gaji pokok juga gak papa.. sampaikan kondisi keuangan usaha, ajak berdoa dan bekerja lagi agar bisa memberikan tunjangan yang lebih baik tahun depan.
Dunia wirausaha memang berwarna. Ketika hari raya karyawan bisa mendapatkan haknya kita ikutan seneng, walaupun misal tidak sepanjang tahun bisnis kita menghasilkan.
Kadang bisa untung besar, kadang biasa saja, kadang bak-buk impas, eh malah kadang rugi di satu bulan.. semua orang mengalami. Kuncinya bersyukur, dan ikhtiar pantang mundur... pasti nanti ALLAH akan mencukupkan rezekinya. Adaaa aja jalannya..
misterius dari jalan tak terduga-duga..
Karena kalau pengen bisnis berkah jangka panjaaaang.. jadi pengusaha itu harus THR (Tanpa Hutang Riba)

Komentar